Tim Ahli Segera Terjun Kaji Tiga Objek Diduga Cagar Budaya di Kota Mojokerto

Published by on

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tim Ahli Cagar Budaya Budaya Provinsi Jawa Timur (Jatim) akan segera turun untuk melakukan kajian terhadap objek diduga cagar budaya (ODCB) di Kota Mojokerto. Langkah itu untuk menindaklanjuti usulan tiga tempat bersejarah yang diusulkan Pemkot Mojokerto untuk ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat kota.

Kabid Kebudayaan Dikbud Kota Mojokerto Mudjoko menyebutkan, pihaknya telah mengajukan tiga titik ODCB untuk dilakukan kajian ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim. Sebagai tahap awal, tim ahli cagar budaya akan mengkaji nilai kesejarahan masing-masing dengan turun langsung ke lapangan. ’’Kami sudah koordinasi dengan tim ahli cagar budaya, insyaallah segera turun ke tiga titik lokasi,’’ tandasnya, kemarin.

Dari hasil kajian tersebut, ungkap Mudjoko, akan menjadi penentu untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Karena masing-masing harus memenuhi sejumlah kriteria berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Selain memiliki nilai kesejarahaan, orisinalitas kondisi fisik dari objek juga menjadi poin pertimbangan. Termasuk usia bangunan yang minimal harus 50 tahun. ’’Ketiganya kami usulkan untuk bisa ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat kota,’’ ulas Mudjoko.

Dari sisi historisnya, tiga ODCB dipastikan telah berusia lebih dari setengah abad. Di antaranya adalah komples Stasiun Mojokerto di Jalan Bhayangkara yang telah eksis sejak masa pemerintah kolonial. Kendati demikian, tim ahli cagar budaya akan melihat langsung objek yang masuk dalam kriteria cagar budaya. Selain itu, dua ODCB lainnya yang diusulkan adalah bungker yang diduga sebagai tempat persembunyian di masa penjajahan Belanda. Masing-masing berada di halaman Gereja Babtis Indonesia Pertama (GBIP) Immanuel di Jalan A. Yani dan di kompleks kantor BPKPD Kota Mojokerto di Jalan Letkol Sumarjo. ’’Untuk memastikan fungsi dan nilai sejarah dari dua bungker tersebut, nanti TACB yang akan menggalinya,’’ imbuhnya.

Dikbud menargetkan ketiganya bisa lolos untuk ditetapkan sebagai benda cagar budaya peringkat kota. Karena status tersebut bisa menjadi landasan bagi Pemkot Mojokerto untuk memberikan bantuan anggaran sebagai upaya pelestarian. Tahun lalu, pemkot menyalurkan dana sekitar Rp 58,6 juta untuk membantu perawatan di 13 objek yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Di antaranya untuk gedung SMPN 1, SMPN 2, SMPN 7, SD Katolik Wijana Sejati, dan SDN Purwotengah, Museum Gubug Wayang, Gedung Rumah Sakit Bantuan (Rumkitban) Detasemen Kesehatan Wilayah (Denkesyah), Gedung Denkesyah Mojokerto, serta Kantor Detasemen Korem 082/CPYJ.

Selain itu, dana perawatan juga disalurkan ke pengelola TITD Hok Sian Kiong, Gereja Katolik Paroki Santo Yosef, GBIP Immanuel, kompleks Makam Islam Pekuncen. ’’Harapannya semua cagar budaya ini juga menjadi destinasi wisata sejarah di Kota Mojokerto,’’ pungkas dia. (ram/fen)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *