Tiga Desa di Mojokerto Dibayangi Krisis Air Bersih

Published by on

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Memasuki musim kemarau, ribuan warga di tiga desa kembali dibayangi kekurangan air bersih. Bahkan, satu desa di antaranya sudah meminta dropping air bersih ke Pemkab Mojokerto.

Adalah Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro. Persediaan air di desa yang berada di lereng Gunung Penanggungan ini sudah menipis. Peristiwa ini melanda rutin tiap tahun. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat mengungkapkan, tahun ini bencana kekeringan di wilayah Kabupaten Mojokerto masih membayangi warga. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah belum bisa menuntaskan persoalan tersebut. ’’Potensi kekeringan di musim kemarau tahun ini masih terjadi di tiga desa yang ada di dua kecamatan,’’ ungkapnya.

Selain Desa Kunjorowesi, dua desa lainnya adalah Desa Manduromanggunggajah, Kecamatan Ngoro dan Desa Duyung, Kecamatan Trawas. Djoko menambah, kekeringan terparah masih berada di Desa Kunjorowesi. Desa yang menjadi langganan kekeringan ini dihuni 1.635 warga. Masing-masing tersebar di Dusun Kandangan 1.050 warga dari 350 KK dan Dusun Kunjorowesi 585 warga dari 195 KK.

Sedangkan, warga terdampak kekeringan di Desa Manduromanggunggajah, Kecamatan Ngoro mencapai 2.142 orang. Masing-masing tersebar di Dusun Buluresik dengan 1.281 jiwa dari 427 KK dan Dusun Manggunggajah sebanyak 861 jiwa dari 287 KK. Selanjutnya, kekeringan juga terjadi di Dusun/Desa Duyung, Kecamatan Trawas dengan warga yang terdampak 831 jiwa dari 277 KK. ’’Total ada sekitar 4.600-an jiwa yang terdampak dari tiga desa,’’ tuturnya.

Hanya saja, hingga sekarang, dari tiga desa yang berpotensi kekeringan, masih Desa Kunjorowesi saja yang sudah mengajukan surat ke BPBD untuk dilakukan dropping air untuk bisa mencukupi kebutuhan MCK (mandi cuci kakus) sehari-hari. Kini, BPBD sudah mulai melakukan persiapan pengiriman dengan berkoordinasi berbagai pihak. ’’Paling cepat Juni, sudah mulai melakukan dropping air bersih ke desa yang terdampak. Saat ini kita sudah mulai lakukan mitigasi,’’ bebernya.

Tak jauh beda dengan tahun lalu. Sebagai penanggulangan kekeringan, BPBD menyiapkan anggaran sebesar Rp 199.500 juta . Ploting ini sedianya sebagai modal BPBD melakukan dropping air bersih ke tiga desa terdampak sebagai solusi jangka pendek dalam mencukupi kebutuhan vital di musim kemarau. Berbagai faktor, memang masih menjadi pemicu kekurangan air.

Di antara penyebab paling klasik tak lain tidak adanya sumber mata air di desa tersebut. Sehingga, mereka mengandalkan air tadah hujan saat musim penghujan. ’’Dropping air menyesuaikan kebutuhan. Paling tidak, sehari kita dropping 10 tangki dengan kapasitas 4 ribu liter per tangki ke tiga desa,’’ jelasnya.

Sebelumnya, Bupati Ikfina Fahmawati juga meminta BPBD Kabupaten Mojokerto meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana hidrometeorologi hingga potensi kekeringan. Apalagi, persoalan bencana alam yang muncul di Bumi Majapahit tidak lepas dari anomali iklim.

’’Kesiapsiagaan kita harus tetap kita tingkatkan, tidak hanya masalah hidrometeorologi yang mungkin nanti akan kita hadapi di akhir tahun 2023 dan awal tahun 2024, tetapi kita juga harus bersiap-siap dengan potensi kekeringan yang mungkin terjadi akibat pada saat hujan di akhir tahun 2022 dan awal 2023 yang diakibatkan resapan air tidak terjadi dengan baik,’’ ungkap Ikfina saat memberi arahan BPBD di kantornya, jalan Jabon, Kecamatan Mojoanyar beberapa waktu lalu. (ori/ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *