Tanam Paksa di Mojokerto, Buka Lahan Pegunungan Dijadikan Perkebunan Kopi

Published by on

DI abad ke-19, Mojokerto menjadi salah satu daerah yang memiliki lahan perkebunan terbesar di Jawa Timur. Terutama dari komoditas biji kopi yang ditanam dengan membuka lahan pegunungan. Meski berhasil menjadi tumpuan ekonomi di era pemerintahan kolonial, namun perkebunan itu merupakan hasil dari kebijakan cultuurstelsel atau tanam paksa.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, sistem tanam paksa diterapkan sejak kisaran tahun 1830-an oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dan, Mojokerto dijadikan sebagai daerah berstatus gouvernment koffiecultuur atau tempat budi daya kopi milik pemerintah. ’’Kopi kemudian ditanam dengan membuka lahan di daerah Gunung Penanggungan,’’ terangnya.

Awalnya, lahan Gunung Penanggungan yang dijadikan perkebunan kopi berada wilayah Kecamatan Trawas. Di atas ketinggian sekitar 1.000 mdpl itu, tanaman kopi berhasil tumbuh subur.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, sejak saat itu Mojokerto menjadi daerah penghasil biji kopi yang pertama dibanding dengan wilayah di sekitarnya. ’’Kopi yang ditanam di Penanggungan merupakan jenis Arabica dan Robusta,’’ papar dia.

Menurutnya, hasil panen biji kopi juga tergolong berkualitas tinggi. Sebab, semua hasil perkebunan di Gunung Penanggungan diekspor ke negara-negara di Eropa. Hasil panen dikirim lewat jalur laut melalui pelabuhan Surabaya.

Sehingga, ungkap Yuhan, kedekatan jarak antara Mojokerto dan Surabaya itulah yang menjadi salah satu alasan dibukanya perkebunan kopi milik pemerintah. ’’Dan di Mojokerto juga memiliki dataran tinggi yang potensial untuk penanaman kopi,’’ imbuhnya.

Hasil panen yang melimpah dari perkebunan kopi di Gunung Penanggungan memberikan sumbangsih terhadap naiknya pendapatan asli dari pemerintah kolonial. Belanda pun akhirnya memperluas lahan perkebunan dengan menambah varietas kopi Liberica.
Jenis kopi asal Afrika tersebut bisa tumbuh di dataran yang lebih rendah. Sehingga, lahan perkebunan kopi dapat dibuka di kaki Gunung Penanggungan yang masuk wilayah Kecamatan Pungging dan Ngoro.

Tak berhenti di situ, perkebunan kopi juga diperluas membuka lahan di kaki Gunung Welirang hingga lereng Gunung Arjuno. Dari ekspansi tersebut, Mojokerto menjadi daerah penghasil kopi terbesar kala itu.

Namun, sebut Yuhan, di balik keberhasilan perkebunan kopi di Mojokerto terdapat ketimpangan yang dialami masyarakat. Karena warga diwajibkan bekerja untuk merawat pohon kopi yang hasilnya dimiliki pemerintah. ’’Padahal para buruh tani diharuskan bekerja sejak pagi hingga petang. Namun, mereka hanya mendapat upah yang sangat rendah,’’ tandas dia. (ram/fen)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *