Sejarah Maha Vihara Mojopahit di Trowulan Mojokerto dan Patung Buddha Tidur Terbesar di Indonesia

Published by on

Mojokerto – Sebentar lagi merupakan perayaan Waisak bagi umat Buddha, di Mojokerto terdapat bangunan suci bagi umat Buddha yang syarat akan sejarah di Indonesia yaitu lokasi yang dikenal Maha Vihara Mojopahit.

Pembangunan Maha Vihara Mojopahit dan patung Buddha tidur diprakarsai Bhikkhu Viriyanadi Maha Tera. Maha Vihara Mojopahit dibangun tahun 1987, lalu diresmikan Gubernur Jatim, Soelarso pada 31 Desember 1989.

Maha Vihara Mojopahit memiliki patung Buddha tidur terbesar yang dibangun tahun 1993 melibatkan pematung dari Solo Jawa Tengah, serta pematung dari Desa Bejijong dan Desa/Kecamatan Trowulan.

Patung raksasa itu baru dicat warna emas tahun 1999. Karena emas dinilai sebagai warna paling bagus untuk menghormati Buddha Gautama.

Patung ini juga disebut Buddha Maha Paranibbana, yang menggambarkan detik-detik wafatnya Buddha Gautama. Sang Buddha wafat dengan posisi seperti tidur miring ke kanan dengan telapak tangan kanan di bawah kepalanya. Pose tersebut sudah menjadi keseharian Sang Buddha setiap kali beristirahat.

Patung Buddha Maha Paranibbana dibangun sangat megah untuk menghormati guru agung Buddha, Siddhartha Gautama. Setiap vihara mempunyai patung Buddha tidur dengan ukuran bervariasi.

Namun, sama-sama menggambarkan detik-detik wafatnya Buddha Gautama. Patung Buddha tidur di setiap vihara juga sama-sama menjadi simbol Agama Buddha yang digunakan untuk ritual pradaksina.

8 orang dikerahkan untuk melaksanakan tradisi memandikan patung Buddha tidur terbesar di Indonesia, jelang Waisak.

Buddha Gautama lahir dengan nama Siddhartha Gautama di Taman Lumbini, Kota Kapilavastu, India tahun 623 sebelum masehi (SM). Ia anak tunggal penguasa Kerajaan Kosala, Raja Suddhodana dan Dewi Maha Maya. Siddhartha mencapai pencerahan dan menjadi Buddha saat bertapa di bawah pohon Bodhi di Hutan Gaya, India tahun 588 SM pada usia 35 tahun.

Buddha Gautama wafat setelah 40 tahun mengajarkan Agama Budha pada tahun 543 SM. Ketiga peristiwa tersebut terjadi pada waktu yang sama, yaitu pada purnama sidhi di Bulan Waisak dalam kalender Buddha.

Momen kelahiran, mencapai pencerahan dan wafatnya Siddhartha Gautama diperingati sebagai Hari Raya Waisak oleh umat Buddha.

Perayaan Waisak di Mojokerto terdapat banyak tradisi, tak terkecuali dimulai dengan tradisi memandikan patung Buddha tidur terbesar di Indonesia tersebut. Tradisi ini diawali dengan doa dan membersihkan patung raksasa memakai air kembang yang sarat makna.

Patung Buddha tidur terletak di area selatan Maha Vihara Mojopahit, Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Patung berwarna emas ini mempunyai dimensi panjang 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mengukuhkannya sebagai patung Buddha tidur terbesar di Indonesia tahun 2001 silam.

Salah satu yang utama adalah tradisi memandikan patung Buddha tidur terbesar di Indonesia.

Maha Vihara Mojopahit juga menjadi destinasi wisata di Mojokerto, karena memiliki kemegahan dan keindahan bangunan beserta kolam dan tamannya. Tak ayal kini patung Buddha tidur ini menjadi destinasi wisata yang rutin dikunjungi masyarakat setiap hari.

Bagi umat Buddha, patung raksasa ini bagian tak terpisahkan dari Maha Vihara Mojopahit menjadi salah satu objek yang dihormati dalam ajaran Buddha di area vihara searah jarum jam dengan posisi objek selalu di sebelah kanan.

Upasaka Pandhita Maha Vihara Mojopahit, Dharmapalo Saryono mengatakan memandikan patung Buddha tidur menjadi tradisi setiap menjelang Waisak. Seperti siang tadi, pembersihan patung raksasa ini melibatkan 8 orang. Menariknya, 4 orang yang terlibat adalah warga muslim yang tinggal di sekitar vihara.

“Biasanya pengunjung banyak yang ikut. Kalau bicara toleransi di tempat ini sudah sejak dulu. Sampai saat ini toleransi yang kami bangun bersama masyarakat semakin kokoh,” kata Saryono, Selasa (30/5/2023) kemarin.

Memandikan patung Buddha tidur, lanjut Saryono diawali dengan doa di depan patung tersebut. Ia berdoa dengan menyalakan dupa. Menurutnya, doa tersebut bukanlah upacara khusus, tapi ritual yang biasa dilakukan Umat Buddha setiap mengawali kegiatan.

Selanjutnya, 8 petugas menyiram semua bagian patung Buddha tidur dengan air yang berisi bunga mawar, melati, kantil dan kenanga. Mereka membersihkan kotoran pada permukaan patung dengan sikat. Berikutnya, dibilas dengan air bersih yang dialirkan melalui selang. Tak ketinggalan relief yang menghiasai pondasi patung Buddha tidur juga dicuci sampai bersih.

Hari Raya Waisak tahun 2567 Buddhis Era atau 2023 masehi jatuh 4 Juni nanti. Menurut Saryono, detik-detik Waisak tepat pukul 10.41.19 WIB. Tahun ini, Waisak mengusung tema Harmonis Masyarakatnya, Tenteram Negaranya. Selain memandikan patung Buddha tidur, pihaknya juga membersihkan patung-patung yang lain, serta tempat-tempat untuk ibadah Waisak nanti di Maha Vihara Mojopahit.

Artikel Sejarah Maha Vihara Mojopahit di Trowulan Mojokerto dan Patung Buddha Tidur Terbesar di Indonesia pertama kali tampil pada Kabar Mojokerto.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *