Putatik, 32, Pelopor Kerajinan Kain Perca di Desa Cinandang Mojokerto

Published by on

Dirumahkan akibat Pandemi, Gandeng Emak-Emak Bikin Keset

Putatik, 32, tidak jauh berbeda dengan ibu rumah tangga pada umumnya. Namun, ia punya semangat besar agar perempuan di sekitar rumahnya, Dusun Sidorembyong, Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, lebih berdaya secara ekonomi. Yakni lewat kerajinan keset berbahan dasar limbah kain perca. Selain mengantongi penghasilan tambahan untuk keluarga, keset dari desa ini mampu menembus pasar nasional.

MARTDA VADETYA, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto

Seperti hari-hari biasanya. Siang itu Putatik dan sejumlah emak-emak tengah menata keset hasil produksi dan bahan limbah kain perca untuk produksi esok harinya. Sembari bekerja, ibu satu anak ini mengisahkan mulai menggeluti usaha kerajinan keset berbahan limbah tersebut sejak 2021 lalu. ”Waktu pandemi itu kan di rumah saja nggak ada kegiatan. Jadi saya punya ide membuat keset dari kain perca,” ungkap Tatik, sapaan karibnya.

Dikatakannya, saat itu, ide tersebut tak lepas dari kesehariannya sebagai ibu rumah tangga yang berusaha menambah pemasukan dengan nyambi bekerja di salah satu produsen keset rumahan di desa sebelah. Saat pandemi Covid-19, Tatik dirumahkan. ’’Tetangga-tetangga saya ajak, banyak yang mau,” sebut istri Rakup ini.

Berbekal secuil pengalaman yang dimiliki, ia berburu rekanan pemasok limbah kain perca. ”Bahan kain perca ini saya ambil dari Gresik,” terangnya.

Setelah urusan bahan baku dirasa beres, dengan telaten Tatik melatih emak-emak tersebut membuat keset secara manual. Mulai dari memilah bahan baku, menentukan pola dan corak, hingga menjahit. Ukuran keset yang dibuat seperti pada umumnya, sekitar satu meter. ”Jadi ibu-ibu ini ambil bahan dari sini terus dibawa pulang, dibuat dirumah. Terus nanti kalau sudah jadi disetor ke sini lagi,” urai Putatik.

Seiring berjalannya waktu, jumlah emak-emak yang bergabung bertahap bertambah. Kini sudah ada sekitar 20 ibu rumah tangga dari 5 dusun. Dalam sehari emak-emak itu mampu menghasilkan 20 potong keset. Dari situ, mereka menerima upah Rp 2.500 per potong keset.

”Jadi mereka bisa dapat sekitar Rp 45-50 ribu per hari. Ya, Alhamdulillah, dengan tambahan penghasilan begini ekonomi warga bisa terbantu,” bebernya. Praktis, emak-emak binaan Tatik mampu mengantongi Rp 1,5 juta dalam sebulan. Pun begitu dengan omzet hasil kerajinan berbahan limbah kain tersebut yang dirata-rata sekitar Rp 30 juta.

Hal itu tak lepas dari pemasaran keset handmade warga Cinandang yang mampu menembus pangsa pasar nasional. Keset kain perca tersebut tak hanya dijual di wilayah Jatim, melainkan juga memasok pasar di wilayah Kalimantan. ”Sudah ada tengkulak yang rutin datang ambil ke sini setiap minggu. Jadi langsung diambil buat dikirim ke luar Jawa, seperti Kalimantan,” papar Tatik. (ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *