Polres Mojokerto Digugat, Korban Pengeroyokan Jadi Tersangka Pemukulan

Published by on

PURI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Polres Mojokerto digugat secara praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Gugatan tersebut dilayangkan Nurhasan, 48, warga Dusun/Desa Kebonagung, Kecamatan Puri. Ia tidak terima ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan dan merasa dikriminalisasi oleh polisi.

Permohonan praperadilan dengan nomor perkara 3/Pid.Pra/2023/PN Mjk dilayangkan Nurhasan melalui kuasa hukumnya Aditya Anugrah Purwanto, Jumat (19/5) lalu. Termohon dalam gugatan ini meliputi Kapolres Mojokerto AKBP Wahyudi, Kasatreskrim AKP Gondam Prienggondhani, dan kanit pidana ekonomi selaku penyidik yang menangani perkara pemohon. Sidang perdana dijadwalkan berlangsung Senin (5/6) pekan depan.

Pada 12 April lalu, Nurhasan ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan terhadap Kepala Dusun Kebonagung Budi Wibowo dengan Pasal 351 ayat 1. Meski ia tidak ditahan, namun Nurhasan menilai proses hukum yang menjeratnya sarat kecacatan. ”Penetapan tersangka ini bagi saya aneh. Karena saya melaporkan pengeroyokan, tapi malah jadi tersangka,” ujarnya ditemui kemarin (23/5).

Perkara penganiayaan yang menjadikannya tersangka bermula dari aksi saling pukul pada tengah malam, 25 Desember 2022 silam. Kala itu dia diundang ke rumah Budi untuk berdiskusi. Belakangan Nurhasan vokal memprotes aktivitas pabrik jeli PT Makmur Artha Cemerlang yang berada di dekat rumahnya. Dia menilai asap pabrik memicu polusi dan pencemaran lingkungan karena limbah cair. ”Limbahnya mengalir ke sungai dan sawah saya,” sebutnya.

Dalam pertemuan itu, Nurhasan dan Budi terlibat perdebatan. Setelah cekcok, Nurhasan menarik Budi dari ruang tamu ke teras. Keributan membuat beberapa orang lantas mendekat. Pertikaian itu akhirnya berujung saling pukul. Nurhasan mengaku dirinya lebih dulu ditonjok di bagian muka oleh Budi dan anaknya, Ikhwan. Setelah menerima beberapa kali pukulan, dia membalas dengan sekali pukulan ke Budi. ”Kemudian saya jatuhkan Ikwan dan kakinya saya kunci. Saat itu ada 3 orang lagi datang memukul kepala, menendang, dan menjambak,” bebernya.

Nurhasan pergi ke rumah sakit dengan sejumlah luka memar dan sobek di bagian wajah dan kepala. Saat itu juga, Nurhasan melaporkan Budi dan empat orang lainnya ke Polsek Puri atas dugaan pengeroyokan. Sehari setelahnya, giliran Budi yang melaporkan Nurhasan ke Polsek Puri dan Polres Mojokerto dengan dugaan penganiayaan. Upaya mediasi yang difasilitasi pihak desa pada 22 Maret lalu gagal. Hingga akhirnya, Nurhasan menerima surat dari satreskrim yang menyatakan dirinya ditetapkan tersangka.

Sehari kemudian, dirinya juga menerima surat serupa yang menyatakan Budi dan 2 orang lainnya jadi tersangka pengeroyokan dengan Pasal 170 ayat 2 ke 1 dan atau Pasal 351 ayat 1 KUHP. ”Bayangkan saya yang lukanya lebih parah malah jadi tersangka. Saya sekali saja memukul pak polo karena reflek. Saya melindungi diri karena dikeroyok,” tandasnya.

Nurhasan merasa proses penyidikan perkara ini sarat kecacatan. Dia menilai penetapan tersangka terhadap dirinya tak memenuhi alat bukti. Sebab, keterangan saksi dari pihak korban yakni orang-orang yang memukulinya patut dipertanyakan. ”Dari proses yang lama dan berbelit-belit ini, saya merasa telah dikriminalisasi,” lontarnya. Melalui gugatan praperadilan, dirinya menuntut agar hakim menyatakan penetapan tersangka tidak sah. Dia juga meminta agar majelis hakim memerintahkan penyidik menghentikan seluruh proses penyidikan.

Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP Gondam Prienggondhani belum memberi keterangan terkait gugatan atas penetapan tersangka oleh pihaknya. Sementara itu, Kasihumas Ipda Hari Krisna mengaku tak mengetahui adanya gugatan praperadilan terhadap Polres Mojokerto yang dilayangkan tersangka ke PN Mojokerto. (adi/ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *