Petani Cabai Mojokerto Kembangkan Teknologi Pertanian Water Guard untuk Budidaya Cabai Carolina dan Bhut Jolokia

Published by on

Pungging – Yani Suharto (57) merupakan petani cabai yang berasal dari Dusun Joho Desa Tempuran Pungging Kabupaten Mojokerto sukses bertani cabai Cabai Carolina dan Bhut Jolokia dengan sistem organik memanfaatkan teknologi pertanian rekayasanya.

Yani mengembangan sistem pengairan secara otomatis berupa teknologi pot otomatis (autopot) untuk menyuplai air nutrisi ke masing-masing tanaman.

Perangkat ini kemudian dinamai Water Guard yang merupakan hasil hasil penelitian perusahaan keluarganya.

Dibantu 2 karyawannya, ia kemudian membudidayakan dua jenis cabai terbaik di dunia karena harganya yang mahal, yaitu Cabai Carolina maupun Bhut Jolokia secara organik di dalam green house.

“Teknologi ini untuk berkebun menjadi lebih mudah karena tak perlu menyiram tanaman secara manual,” jelasnya kepada Kabarmojokerto.id beberapa waktu lalu.

Penerapan Water Guard bisa dibilang sangat mudah, setiap bibit cabai ditanam pada pot berdiameter 40 cm.

Media tanamnya menggunakan tanah gembur campur sekam padi bakar. Selanjutnya, setiap 2 pot diletakkan di sebuah matras.

Media tanamnya tanah campur bakaran sekam. Setiap pohon Cabai Carolina ditempatkan di pot berdiameter 40 cm. (Foto M Gusta)

Ketika air pada pot telah habis, Water Guard mengatur secara otomatis agar matras terisi air nutrisi setinggi 3 cm dari tandon.

Air nutrisi dengan sendirinya meresap ke media tanam karena bagian bawah pot sudah dilubangi. Sehingga kelembaban tanah terus terjaga secara otomatis tanpa membuat akar tanaman membusuk. Karena air yang berlebih membuat akar cabai mudah membusuk.

“Kalau mengatasi jamur kami pakai alat semprot khusus, hanya disemprot air tanpa pestisida,” ujar Yani.

Kini, Yani sukses membudidayakan dua jenis cabai yaitu Cabai Carolina dan Bhut Jolokia, harga pasarnya pun sangat mahal karena menyentuh jutaan rupiah.

Pertama, Carolina Reaper, cabai terpedas ketiga di dunia ini harga cabai asal AS ini mencapai Rp 1,2 juta/Kg.

Budi daya Cabai Carolina ditekuni Yani sejak 3 tahun lalu. Saat ini, ia mempunyai 300 tanaman Carolina Reaper di 3 green house. Masing-masing green house seluas 5,5 x 40 meter persegi berisi 100 tanaman.

“Setiap pohon rata-rata menghasilkan 7 ons atau 100 buah Cabai Carolina setiap panen,” kata Yani.

Ada juga Cabai Carolina warna cokelat di green house Yani. Setiap pohon Carolina Reaper menghasilkan 7 ons cabai sekali panen. (Foto M Gusta)

Berbeda dengan cabai rawit lokal, Cabai Carolina cenderung bulat dengan permukaan kasar. Yani membudidayakan 4 varian Carolina Reaper sekaligus, yakni merah, kuning, putih dan cokelat. Cabai asal Carolina Selatan, AS ini 14-22 kali lebih pedas dibandingkan cabai rawit lokal.

Kedua, Cabai Bhut Jolokia atau Ghost Pepper asal India Utara juga dibudidayakan di tempat ini. Yani menanam 2 jenis cabai setan itu, yakni ungu dan merah. Bentuknya seperti cabai rawit, tapi lebih gemuk dan panjang. Kepedasan cabai ini 855 ribu sampai 1 juta SHU.

“Cabai Carolina ada manis wanginya sedikit, pedasnya mantap. Kalau Bhut Jolokia pedas saja. Sensasi pedasnya jauh banget dibandingkan cabai lokal,” terangnya.

Awalnya, Yani membeli Cabai Carolina dan Ghost Pepper dari temannya sesama komunitas petani cabai di Bogor, Jabar. Dari sinilah ia kemudian mengembangkan budidayanya.

Harga bibit cabai untuk jenis keduanya ini tergolong mahal. Sebab Cabai Carolina mencapai Rp 90.000 per buah. Kini ia mempunyai stok bibit yang melimpah.

Di green house yang sama, Yani juga membudidayakan Bhut Jolokia atau Cabai Setan asal India. Tingkat kepedasan cabai ini 855.000 sampai 1 juta SHU. (Foto M Gusta)

Dari tahap pembibitan, lanjut Yani, dibutuhkan perawatan selama 3 bulan sampai panen.

Menurutnya, setiap pohon Cabai Carolina dan Bhut Jolokia bisa dipanen dua kali dengan syarat dirawat dengan baik. Masa panen kedua 1,5 bulan dari panen pertama.

Setelah panen kedua, semua tanaman cabai harus diganti dengan bibit baru sebab berbuahnya tak lagi maksimal. Jika setiap pohon Cabai Carolina menghasilkan 7 ons buah, hasil panen Cabai Bhut Jolokia 3 kali lipatnya atau 2,1 Kg buah.

Selain bibitnya mahal, perawatannya rumit, serta rasanya yang sangat pedas, Cabai Carolina mahal karena masih jarang di pasaran.

Hasil panen Yani biasa diambil pembeli dari Sidoarjo dan Surabaya, baik pembeli perorangan maupun karyawan restoran Korea dan Taiwan.

Menurut Yani, harga Cabai Carolina saat ini Rp 1,2 juta/Kg dalam kondisi basah. Sedangkan cabai kering yang sudah dioven, ia banderol Rp 3 juta/Kg. Ia juga mengolahnya menjadi cabai bubuk, serta untuk memproduksi camilan kacang dan kentang goreng pedas.

“Saat ini kami masih mengurus semua izinnya dan menyiapkan semua alat produksinya,” cetusnya.

Sedangkan hasil panen Cabai Bhut Jolokia belum pernah ia jual. Selama ini, cabai dari India yang juga sangat pedas itu ia bagikan ke para tetangganya. Ke depan, Yani bakal meningkatkan budi daya cabai setan itu untuk menyaingi harga cabai rawit lokal ketika mahal.

“Rencananya nanti harganya mau saya samakan dengan cabai lokal saat mahal. Kalau terlalu murah kami keringkan,” tandasnya.

Artikel Petani Cabai Mojokerto Kembangkan Teknologi Pertanian Water Guard untuk Budidaya Cabai Carolina dan Bhut Jolokia pertama kali tampil pada Kabar Mojokerto.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *