Pembunuh Karyawan Toko Gorden di Mojokerto Temui Polisi lalu Melarikan Diri

Published by on

Terungkap saat Sidang Lanjutan Agenda Pemeriksaan Saksi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Adik dan kakak terdakwa pembunuh karyawan toko gorden di Mojosari sempat menemui seorang anggota Polda Jatim sebelum melarikan diri ke Jombang. Pertemuan yang berlangsung di sebuah rumah makan itu difasilitasi salah satu teman nongkrong terdakwa. Kepada polisi, keduanya curhat tentang aksi pembunuhan yang telah dilakukan.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, kemarin (15/5). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kabupaten Mojokerto M Fajarudin menghadirkan tujuh orang saksi. Yakni Wahyu Nusantara Aji, 26, dan Wawan Efendi, 34, warga Dusun Pacet Selatan, Desa/Kecamatan Pacet. Wahyu adalah orang yang menemukan mayat korban Ahmad Hasan Muntolip, 26, di tepi jalan Pacet-Cangar pada Selasa pagi, 22 November 2022. Sebelum dilaporkan ke polisi, penemuan mayat tersebut lebih dulu ia beritahukan ke Wawan.

Jaksa juga menghadirkan Teguh Ariadi, 30, warga Dusun Sukorejo, Desa Peterongan, Kecamatan Bangsal. Teguh merupakan teman nongkrong terdakwa M Nur Hidayatulloh alias Dayat, 26. Pada Selasa malam, hari ketika mayat korban ditemukan, Dayat bersama kakaknya M Siro Juddin alias Udin, 28, mendatangi rumah Teguh. Kepadanya, kedua terdakwa mengaku telah membunuh Muntolip. ”Saya sarankan lebih baik serahkan diri ke polisi, tapi terdakwa hanya diam,” ujar Teguh yang bersaksi kedua terdakwa mendatanginya dengan muka penuh beban pikiran.

Saksi mengaku hubungannya dengan Dayat sebatas teman ngopi. Keduanya sudah saling kenal sejak 4 tahun terakhir. Dalam pertemuan itu, Teguh kemudian menghubungi keponakannya bernama Jaka yang berdinas di Polda Jatim. Kedua terdakwa pun diajak ketemuan dengan si polisi yang tinggal di Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari. ”Kami berempat ketemu di warung makan, kedua terdakwa dan Jaka ngobrol sedangkan saya di meja terpisah,” bebernya.

Teguh yang hadir dalam pertemuan itu mengaku tak mengetahui isi obrolan antarketiganya. Sekilas yang dia tahu kedua terdakwa menceritakan aksi pembunuhan yang baru saja dilakukan 24 jam sebelumnya. ”Jaka hanya bilang ke saya kalau pembunuhan itu dilakukan tiga orang, satu lagi pelaku perempuan. Soal isi obrolannya apa saya tidak tahu,” kilahnya.

Tujuan kedua terdakwa bertemu dengan seorang polisi padahal baru saja melakukan pembunuhan menjadi misteri. Penasihat hukum terdakwa Dayat dan Udin, Rifan Hanum menyebut, kliennya hanya sebatas menceritakan perbuatannya kepada si polisi. ”Curhat saja,” ucapnya seusai sidang. Dirinya tak membenarkan ataupun membantah jika kedua terdakwa bermaksud meminta perlindungan.

Yang pasti, setelah pertemuan itu, kakak dan adik asal Dusun Tegalsari, Desa/Kecamatan Puri, tersebut melarikan diri. Tapi, keduanya berhasil diringkus polisi pada Rabu malam, 23 November 2023 di Desa Denanyar, Jombang. Penangkapan itu berlangsung setelah polisi lebih dulu menangkap satu tersangka lain, yakni kekasih Dayat, Anis Anjarwati alias Anjar, 24, warga Anis warga Desa Plososari, Kecamatan Puri.

Dalam sidang pemeriksaan saksi kemarin, jaksa juga menghadirkan kekasih Udin, Sisil Andriani, 25, warga Desa Tawangsari, Kecamatan Trowulan, serta dua teman yakni Irene Melati Putri, 23, dan M Andre Yulianto, 26. Bersama Udin, ketiganya tinggal di rumah kontrakan di Dusun Jogodayoh, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar. Selain itu, Ananda Putra Pratama, 29, warga Desa Salen, Kecamatan Bangsal, selaku pemilik mobil Honda Brio yang digunakan terdakwa untuk membuang jasad korban juga dihadirkan.

Sebagaimana diketahui, Muntolip dibunuh di Toko Gorden Bintang Jaya, Jalan Airlangga nomor 14, Kecamatan Mojosari, tempatnya bekerja, Senin malam, 21 November 2022. Dayat berkali-bali menusuk korban menggunakan besi betoneser hingga tewas. Udin dan Anis menunggu di depan toko saat Dayat mengeksekusi korban. Dalam dakwaan terungkap, Dayat nekat membunuh korban karena tak mau membayar utang sebesar Rp 4,5 juta. Terdakwa bermaksud menggunakan uang itu untuk menebus HP si kekasih sekaligus mencarikannya pekerjaan.

Setelah dibunuh, HP dan motor korban dijual terdakwa. Udin mendapat bagian Rp 500 ribu dan Anjar diberi Rp 1, 5 juta. Sementara itu, sisanya dipakai ketiganya untuk membeli makan dan berbelanja serta diberikan kepada seseorang bernama Hari yang membantu menjualkan sepeda motor korban.

Setelahnya, ketiga terdakwa lantas membuang jasad korban ke tepi jalan di kawasan Pacet-Cangar pada Selasa (22/11) dini hari. Dayat selaku aktor pembunuhan didakwa dengan Pasal 340 subsider Pasal 339 subsider Pasal 338 atau Pasal 365 Ayat 3 KUHP. Sedangkan Udin dan Anjar didakwa dengan Pasal 340 juncto Pasal 56 subsider Pasal 339 juncto Pasal 56 subsider Pasal 338 juncto Pasal 56 atau Pasal 365 Ayat 3 juncto Pasal 56 KUHP. (adi/ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *