Pembunuh Karyawan Gorden di Mojokerto Ngaku Disuruh Polisi Kabur Luar Daerah

Published by on

Muncul Pengakuan saat Sidang di PN Mojokerto

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Drama sidang perkara pembunuhan karyawan toko gorden di Mojosari, Ahmad Hasan Muntolip, 26, berlanjut. Kemarin (22/5), terdakwa mengaku disuruh kabur oleh anggota Polda Jatim yang ditemui sehari setelah mengeksekusi korban. Di sisi lain, dalam pertemuan yang berlangsung di warung kopi itu, polisi itu berdalih justru memberi saran agar ketiga terdakwa menyerahkan diri.

Sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan saksi digelar di Ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) sekitar pukul 11.30. Ketiga terdakwa M Nur Hidayatulloh alias Dayat, 26; M Siro Juddin alias Udin, 28; dan Anis Anjarwati alias Anjar, 24, dihadirkan secara online dari Lapas Kelas II-B Mojokerto. Dalam sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kabupaten Mojokerto M Fajarudin menghadirkan saksi Taufiq Zakaria, seorang anggota Polda Jatim.

Pada sidang pekan lalu, nama Zakaria (sebelumnya ditulis Jaka) diungkit oleh saksi Teguh Ariadi, teman nongkrong Dayat. Warga Dusun Sukorejo, Desa Peterongan, Kecamatan Bangsal, itu menyebut sempat mempertemukan Dayat dan Udin dengan Zakaria yang tak lain adalah keponakannya. Pertemuan tersebut berlangsung Selasa malam, 22 November 2022, tepat 24 jam setelah terdakwa membunuh lalu membuang jasad korban di jurang jalur Pacet-Cangar. Zakaria mengakui adanya pertemuan antara dirinya dengan kedua terdakwa. ”Saya dihubungi Teguh karena temannya ada masalah dan minta solusi, setelah itu mereka saya suruh ke rumah,” kata Zakaria dalam sidang kemarin.

Warga Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, itu lantas mengajak Dayat dan Udin serta Teguh ke Warkop 27 tak jauh dari rumahnya. Zakaria mengendarai motor sedangkan tiga lainnya menggunakan mobil Honda Brio warna Kuning dan Mitsubishi Lancer warna putih. Menurutnya, Dayat dan Udin lantas mengaku telah membunuh seorang pegawai toko gorden karena masalah utang piutang. ”Setelah cerita kronologinya, saya sarankan agar terdakwa menyerahkan diri ke polisi,” ujarnya polisi yang bertugas di bidang penjagaan tahanan Polda Jatim tersebut.

Dua sosok yang sudah lama dia kenal itu hanya diam saat diberi solusi untuk menyerahkan diri ke polisi. Kendati berstatus anggota Polri, Zakaria mengaku tidak berani melaporkan apalagi menahan kakak beradik asal Dusun Tegalsari, Desa/Kecamatan Puri. Dia berdalih kasus pembunuhan bukanlah ranahnya. ”Saya tidak mampu dan saya juga tidak pernah masuk reserse. Saya juga khawatir keluarga saya kenapa-kenapa,” tepisnya menjawab pertanyaan kuasa hukum terdakwa Rif’an Hanum yang keheranan karena saksi membiarkan keduanya melenggang bebas.

Fakta lain terungkap. Malam usai pertemuan yang berlangsung selama 30 menit itu, Zakaria dan Teguh mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan. ”Saya hanya memastikan TKP,” kelit Zakaria menjawab keterangan BAP yang dibacakan Fajarudin. Sedangkan Udin dan Dayat, sebagaimana diketahui ditangkap oleh Satreskrim Polres Mojokerto di Jombang saat hendak kabur ke luar daerah pada Rabu malam, 23 November 2022.

Dalam sidang kemarin, Udin membantah kesaksian Zakaria. Langkahnya kabur ke luar daerah justru atas saran si polisi tersebut. ”Mohon izin yang mulia, saya disuruh melarikan diri ke Jogja atau Jawa Tengah,” tandasnya saat menjawab pertanyaan hakim ketua Rosdiati Samang. Bantahan juga dilontarkan oleh Dayat. Menurut dia, sebelum bertemu, Zakaria sudah mengetahui jika keduanya membunuh Muntolip. Zakaria tahu kabar tersebut dari berita yang beredar.

Seperti diberitakan, Muntolip dihabisi di Toko Gorden Bintang Jaya, Jalan Airlangga nomor 14, Kecamatan Mojosari, tempatnya bekerja pada Senin malam, 21 November 2022. Dayat berkali-bali menusuk korban menggunakan besi beton eser hingga tewas. Udin dan Anjar menunggu di depan toko saat Dayat mengeksekusi korban. Dalam dakwaan terungkap, Dayat nekat membunuh korban karena tak mau membayar utang sebesar Rp 4,5 juta. Terdakwa bermaksud menggunakan uang itu untuk menebus HP milik Anjar yang tak lain kekasihnya di pegadaian.

Setelah dibunuh, HP dan motor korban dijual terdakwa. Udin mendapat bagian Rp 500 ribu dan Anjar diberi Rp 1, 5 juta. Sementara itu, sisanya dipakai membeli makan dan berbelanja serta diberikan kepada seseorang bernama Hari yang membantu menjualkan sepeda motor korban. Setelahnya, ketiga terdakwa lantas membuang jasad korban ke tepi jalan Pacet-Cangar pada Selasa (22/11) dini hari.

Dayat selaku aktor utama pembunuhan didakwa dengan Pasal 340 subsider Pasal 339 subsider Pasal 338 atau Pasal 365 Ayat 3 KUHP. Sedangkan Udin dan Anjar didakwa dengan Pasal 340 juncto Pasal 56 subsider Pasal 339 juncto Pasal 56 subsider Pasal 338 juncto Pasal 56 atau Pasal 365 Ayat 3 juncto Pasal 56 KUHP. (adi/ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *