Padamanya Abi Abadi Tahun 1995 di Area Kolam Bekucuk Mojokerto Karena Pengeboran dan Eksploitasi Yodium

Published by on

Sooko – Api abadi di Kolam Bekucuk belum berkahir dan masih menjadi hal terunik bagi masyarakat Desa Tempuran Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto dan sekitarnya meskipun telah padam.

Masyarakat setempat menyebut pada tahun 1995, api abadi di Kolam Bekucuk yang ada di Dusun Bekucuk itu harus padam, akibat pengeboran yodium.

“Sekitar tahun 1995 mati total. Penyebabnya banyak dibor untuk yodium,” kata orang yang dituakan di Dusun Bekucuk, Suroso (72) di rumahnya, Kamis (11/5/2023) kemarin.

Orang yang dituakan masyarakat tersebut menjelaskan, pengeboran yodium menyebabkan gas dari dalam bumi di Dusun Bekucuk berangsur-angsur habis.

Pengeboran oleh perusahaan farmasi itu hanya mengambil air yang mengandung yodium. Warna airnya kekuning-kuningan, dan memiliki rasa asin.

“Pengeboran sebelum api padam. Lokasi pengeboran di Karangri, di selatan sana, di Prabon, jadinya melingkar pengeborannya. Hanya ambil airnya saja yang mengandung yodium,” ungkapnya.

Padamnya api abadi juga mempengaruhi pengunjung yang hendak berwisata, tidak lagi seperti tahun 1993-1994 ketika Kolam Bekucuk masih menyemburkan api, wisatawan juga membludak.

Padahal masyarakat dan wisatawan juga penasaran dan menjadikan salah satu ajang hiburan hingga alat bantu aktivitas, bagi wisatawan karena ingin melihat fenomena api keluar dari tanah di rumah-rumah warga. Bagi warga juga memanfaatkannya untuk memasak, atau membakar makanan.

Padahal, sekitar tahun 1995, Pemkab Mojokerto membangun pendapa dengan 2 tungku di area Kolam Bekucuk. Proyek wisata itu gagal total setelah api abadi padam.

“Kemudian apinya padam sehingga gagal. Dulu ceritanya mau dibuat kolam, dibangun pendapa besar, tapi penonton sudah sepi sehingga gagal,” jelasnya.

Meski kini telah padam, Kolam Bekucuk tetap dikeramatkan oleh warga setempat sejak dulu kala. Punden Dusun Bekucuk itu konon petilasan Eyang Surono alias Mbah Jenggot. Sejumlah tradisi masih digelar masyarakat di tempat ini.

Menurut Suroso, sesekali pengunjung juga masih datang untuk beragam tujuan. Mulai dari mengambil air untuk menyembuhkan gatal-gatal, hingga ritual dengan maksud khusus.

Punden di Lokasi Kolam Bekucuk.

“Sebagian tamu ada ritual untuk tujuan khusus, tapi tidak seperti di tempat lain, paling hanya 1-2 orang menaruh sesaji kembang wangi,” ujarnya.

Ihwal tamatnya riwayat api abadi Bekucuk juga dilontarkan Suwono (57). Rumahnya paling dekat dengan Kolam Bekucuk menjelaskan padamnya api abadi katena pengeboran yodium.

Menurutnya, perusahaan farmasi menyedot air mengandung yodium yang warnanya kuning mengilap. Namun, ia tak tahu persis kapan eksplorasi itu berakhir.

“Setelah dibor apinya berkurang. Sebelum dibor, api sangat besar, banyak titik api, paling besar di kolam itu,” cetusnya.

Suwono menjelaskan, kini kedalaman Kolam Bekucuk sekitar 5 meter. Karena pernah ia uruk menggunakan koral. Menurutnya, terkadang masih ada pengunjung yang datang ke punden tersebut. Biasanya malam Jumat untuk ritual penyembuhan penyakit.

“Misalnya orang sakit tak sembuh-sembuh, entah ambil airnya, mendapat kesembuhan. Eyang Surono sebagai perantara, tetap karena Allah SWT,” terangnya.

Kepala Desa Tempuran Slamet menuturkan punden Bekucuk berdiri di tanah kas desa. Sedangkan pendapa besar dan tanah lapang di sebelah baratnya merupakan aset Pemkab Mojokerto.

Tahun ini, ia mengajukan bantuan keuangan (BK) desa Rp 1 miliar dari Pemkab Mojokerto. Jika disetujui, anggaran itu untuk membangun pendapa baru sekaligus pagar keliling bergaya Majapahitan di area Kolam Bekucuk.

‘Fungsinya untuk rapat, istigasah, ruwah dusun. Kolam dan punden tetap. Mudah-mudahan anggaran turun,” jelasnya.

Slamet menambahkan, sangat kecil kemungkinan Kolam Bekucuk bisa kembali menjadi wisata api abadi. Sebab sekitar tahun 2020, Pemprov Jatim sudah pernah berupaya meneliti potensi tersebut untuk wisata. Namun, upaya tersebut gagal.

“Pengeboran gagal karena baru kedalaman tertentu, bor macet. Pengeboran saat itu di beberapa titik, pindah-pindah di area itu,” pungkasnya.

Artikel Padamanya Abi Abadi Tahun 1995 di Area Kolam Bekucuk Mojokerto Karena Pengeboran dan Eksploitasi Yodium pertama kali tampil pada Kabar Mojokerto.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *