Musim Kemarau, Ribuan Warga di Mojokerto Terancam Krisis Air Bersih

Published by on

Mojokerto – Krisis air bersih masih menghantui warga Kabupaten Mojokerto jelang datangnya musim kemarau. Meski sudah puluhan tahun terjadi, namun pemerintah daerah belum mampu untuk mengatasi persoalan yang tiap tahun terjadi.

Berdasarkan data yang dihimpun kabarmojokerto.id, setidaknya ada ribuan warga di wilayah Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto yang selalu terkena dampak krisis air bersih. Sumur-sumur dan sumber mata air mengering saat setiap kali musim kemarau tiba.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Soepangkat, sedikitnya terdapat 3 desa yang terancam mengalami kekurangan air bersih saat musim kemaru. Yakni, Desa Kunjorowesi dan Manduro Manggunggajah, Kecamatan Ngoro serta Desa Duyung , Kecamatan Trawas.

“Berdasarkan evaluasi tahun kemarin desa itu itu saja. Memang tiga desa tergolong gersang tanah,” katanya saat dikonfirmasi kabarmojokerto.id melalui sambungan telpon, Selasa (23/5/2023).

Supangkat menuturkan, berdasarkan imbau Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau telah terjadi sejak awal bulan Mei 2023. Bahkan kemarau panjang diprakirakan akan terjadi dan diprediksi hingga bulan November 2023.

Ancaman krisis air bersih ini berdampak kepada ribuan warga di tiga desa tersebut. Di Desa Kunjorowosi ini dihuni 1.635 warga. Masing-masing tersebar di Dusun Kandangan 1.050 warga dari 350 KK dan Dusun Kunjorowesi 585 warga dari 195 KK.

Sedangkan, di Desa Manduromanggunggajah, Kecamatan Ngoro mencapai 2.142 orang. Masing-masing tersebar di Dusun Buluresik dengan 1.281 jiwa dari 427 KK dan Dusun Manggunggajah , sebanyak 861 jiwa dari 287 KK.

Selanjutnya, kekeringan juga terjadi di Dusun/Desa Duyung, Kecamatan Trawas dengan warga yang terdampak 831 jiwa dari 277 KK. Total keseluruhan warga terdampak mencapai 4.600 jiwa.

Djoko menjelaskan, sementara ini penanganan krisis air bersih dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) setempat. Pemdes Kunjorowesi sudah mengajukan surat ke BPBD Kabupaten Mojokerto untuk dilakukan dropping air guna mencukupi kebutuhan MCK (mandi cuci kakus) warga sehari-hari.

BPBD Kabupaten Mojokerto akan menyiapkan dropping air bersih yang bekerjasama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Droping air bersih ini, BPBD Kabupaten Mojokerto menyiapkan anggaran sekitar Rp 199.500 juta. Supangkat menargetkan, proses penyaluran air bersih akan mulai dilakukan bulan Juni 2023.

“Dropping air bersih ke tiga desa terdampak sebagai solusi jangka pendek dalam mencukupi kebutuhan vital di musim kemarau. Yang dropping nanti pakai armada PDAM. Dipastikan air yang didistribusikan bersih dan layak. Tapi kita masih menyiapkan proses MoU dengan PDAM,” tukas Supangkat.

Artikel Musim Kemarau, Ribuan Warga di Mojokerto Terancam Krisis Air Bersih pertama kali tampil pada Kabar Mojokerto.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *