Memorabilia Kota Mojokerto, Serasa Flashback ke Masa Lalu

Published by on

KOTA Mojokerto tak hanya dikenal dengan onde-ondenya saja. Kota kecil dengan tiga kecamatan ini punya sejumlah potensi pariwisata yang ikonik. Termasuk wisata budaya dan sejarah dibalik sejumlah bangunan tua dan kuno yang masih kokoh berdiri.

Bangunan bersejarah di Kota Mojokerto tak hanya SDN Purwotengah dan SMPN 2 Kota Mojokerto yang notabene menjadi tempat Bung Karno cilik menimba ilmu. Ketua Mojokerto Heritage Community (MHC) Nathallia Fidrawati menuturkan, ada banyak bangunan kuno di Kota Onde-onde yang punya nilai historis tinggi. Di antaranya yakni, Asrama Polri, Kantor Pengairan Brantas, dan Gedung Bioskop Indra. ’’Selain bersejarah, ketiga bangunan ini bisa dibilang sudah melekat dengan masyarakat (Kota Mojokerto) sejak tempo dulu,’’ terangnya.

Betapa tidak, bangunan tersebut sudah berdiri sejak puluhan hingga ratusan tahun silam. Asrama Polri misalnya, kompleks di selatan Jogging Track Sungai Brantas ini beralih fungsi menjadi asrama sejak 1913. Yang sebelumnya merupakan kompleks PG Sentanen Lor. Pabrik gula pertama di Kota Mojokerto yang dibangun GJ Eschauzier, taipan Belanda, pada 1834 silam.

Kemudian, Kantor Pengairan Brantas atau yang dulunya disebut Provinciale Irrigatie Afdeling Brantas atau Kantor Pengairan Brantas. Bangunan di sebelah tenggara alun-alun ini dulunya merupakan prasarana irigasi di era kolonial Belanda. Yang kini, digunakan sebagai kantor Dinas PU Pengairan Kabupaten Mojokerto. ’’Ini salah satu bangunan tua yang ikonik di pusat Kota Mojokerto yang kondisinya relatih utuh dan terawat baik,’’ sebutnya.

Selanjutnya Gedung Bioskop Indra yang masih berdiri kokoh di barat daya alun-alun. Merupakan salah satu gedung bioskop pertama di Kota Mojokerto. Yang sebelumnya bernama Bioskop Rexx berubah nama menjadi Bioskop Indra pasca perang kemerdekaan. ’’Arsitektur bangunan Belanda memang terkenal kokoh dan kuat. Selain itu, punya ciri khas yang berbeda dengan arsitektur lainnya,’’ paparnya.

Nathallia menjelaskan, ada beberapa komponen yang menonjol dari arsitektur Belanda. Mulai dari lengkungan tembok dan kanopi kayu, ventilasi segi delapan hingga ubin bercorak khas kolonial. ’’Seperti asrama Polri dengan nuansa Indische Empire ditambah plafon kayu dan gedung bioskop indra yang punya nuansa sama (Indische Empire). Kalau sekarang kita lihat ketiga bangunan itu, seperti bisa bikin orang flashback ke masa lalu,’’ ucapnya.

Menurutnya, kondisi ketiga bangunan tua tersebut relatif kokoh dan terawat. Hanya saja, sebagian perlu ada perbaikan. Bahkan, kata Nathallia, ketiga bangunan historis itu layak diajukan sebagai cagar budaya. ’’Salah satunya karena usianya sudah di atas 50 tahun ya. Tapi untuk jadi bangunan cagar budaya ini memang harus ada kajian dan penelitian lebih lanjut,’’ urainya. (vad/fen)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *