Masa Tanam Paksa di Mojokerto, Dialihkan Jadi Tanaman Tebu

Published by on

MASA tanam paksa di Mojokerto berlangsung hingga awal abad ke-20. Selain kopi, pemerintah kolonial juga membuka lahan untuk ditanam tebu. Hasil panen dijadikan sebagai bahan baku ke pabrik gula (PG) yang tersebar hingga 12 titik.

Ayuhanafiq menuturkan, pada akhir abad ke-19, eksistensi perkebunan kopi di Mojokerto kian meredup. Posisinya bergantian dengan komoditas tebu yang permintaannya terus mengalami peningkatan signifikan.

Itu menyusul berkembangnya industri gula yang ditandai dengan berdirinya pabrik gula baru di Mojokerto. ”Sebagai bahan baku gula, tebu menjadi komoditas yang paling banyak dicari dengan berdirinya 12 pabrik gula,” sambungnya.
Keberadaan industri gula tersebut turut memberikan dampak tenggelamnya perkebunan kopi. Karena pengusaha gula mengambil alih lahan yang sebelumnya merupakan perkebunan kopi kopi diganti menjadi tanaman tebu.

Seperti perkebunan kopi di Kecamatan Ngoro yang diambil alih oleh PG Sedati. Demikian pula dengan perkebunan di Pungging yang telah dikuasai PG Koning Willem II yang berdiri di Mojosari. Nasib serupa juga dialami perkebunan kopi di lereng Gunung Welirang yang juga dikelola PG Pohjejer.

Karena dianggap lebih menjanjikan, sehingga pemerintah kolonial memberikan hak kelola kepada pengusaha gula dengan sistem sewa. ”Harga sewa lahan nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan hasil dari tanaman kopi,” urai dia.

Pada periode 1920-an, lahan perkebunan kopi pun kian menyusut. Hingga akhirnya, pemerintah kolonial memutuskan untuk menutup perkebunan. Di lain sisi, perkembangan industri gula kian melejit.

Meski demikian, ungkap Yuhan, masyarakat tetap tidak ikut merasakan kejayaan industri gula. Karena buruh tani juga tetap digaji dengan upah yang rendah. Pun demikian dengan pekerja pabrik yang juga diperlakukan berbeda dengan pekerja nonpribumi.

Sayangnya, masa keemasan industri gula juga juga tidak mampu berlangsung lama. Itu menyusul gelombang resesi ekonomi yang berlangsung kisaran tahun 1930-an. ”Secara bergiliran pabrik gula yang ada di Mojokerto tutup. Hingga saat ini yang masih bertahan hanya PG Gempolkrep,” pungkas Yuhan. (ram/ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *