Kreativitas Ibu-ibu Dawarblandong, Mojokerto Daur Ulang Sampah

Published by on

Isi Waktu setelah Memasak dan Bertani, Kini Jadi Tambahan Penghasilan

Di tangan kreatif ibu-ibu asal Desa Cinandang, gelas air mineral bisa jadi kerajinan tudung saji. Kegiatan daur ulang sampah jadi barang bernilai jual ini dilakukan untuk menjadi pengisi waktu yang produktif di sela mengurus rumah tangga dan bertani.

YULIANTO ADI NUGROHO, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto

Di balai dusun di Desa Cinandang itu, berkumpul belasan ibu-ibu. Mereka duduk melingkar. Tangannya tak berhenti bergerak. Waktu berlalu, rangkaian tudung saji berbahan gelas air mineral bekas itu sudah hampir jadi. Tinggal memasang pita dan bunga sebagai pemanis, penutup makanan beraneka warna itu siap untuk dipasarkan.

Di kampung yang berada di Kecamatan Dawarblandong tersebut, sampah rumah tangga dikelola secara cermat. Selain dikumpulkan lewat bank sampah, sampah rumah tangga juga diolah jadi barang bernilai jual. Adalah ibu-ibu kader Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) yang memanfaatkannya. ”Kami manfaatkan untuk kerajinan,” ujar Ketua Bank Sampah Desa Cinandang, Rayi Windari.

Tudung saji berbahan gelas air mineral bekas adalah salah satu produk kerajinan yang dimaksud. Kegiatan pembuatan kerajinan ini biasanya dilakukan setelah para ibu-ibu mengurus rumah tangga dan bekerja di sawah. Bertani adalah pekerjaan utama di desa yang berada di ujung utara Kabupaten Mojokerto ini. ”Ada sekitar 15 sampai 20 ibu-ibu PKK yang terlibat,” imbuh perempuan 35 tahun itu.

Selain mengurangi sampah rumah tangga, kerajinan daur ulang tersebut juga menjadi sumber penghasilan tambahan. Dalam sehari, mereka bisa memproduksi 30 sampai 50 tudung saji. Perlengkapan dapur itu dijual dengan kisaran harga Rp 20-23 ribu per buah. Rayi mengungkapkan, pemberdayaan ibu-ibu di Desa Cinandang melalui program daur ulang sudah berlangsung sejak beberapa tahun silam.

Perwakilan ibu-ibu yang sudah mendapat pelatihan Pemkab Mojokerto menularkan ilmu dan kemampuannya ke warga lain. Dari yang awalnya hanya diajari bikin keset, sekarang mereka bisa membuat berbagai macam bentuk kerajinan. ”Tujuannya agar ibu-ibu ada kegiatan. Setelah masak, bertani, kita kebanyakan tidak ada kegiatan. Kita juga mengajak ibu-ibu untuk lebih kreatif. Kita mengajak pelatihan ini, supaya kedepannya ada tambahan penghasilan,” tuturnya.

Jenis kerajinan yang dibuat tak terbatas pada tudung saji. Ibu-ibu ini juga lihai membuat kerajinan lain seperti jampel atau pelindung hantaran dan bros. Jenis kerajinan yang diproduksi menyesuaikan tren dan kebutuhan pelanggan. ”Kita melihat yang ramai di pasar apa saat ini. Dulu pernah bikin tas dari plastik bekas kopi, minuman, dan lainnya tapi sudah meredup,” tandasnya. (ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *