Karta dan Jin Kere

Published by on

Oleh: Herumawan P A

DALAM kebekuan pikiran dan kegelapan hati, Karta berjalan lunglai menelusuri jalan kampung. Wajahnya tampak suntuk. Tadi pada rapat panitia menyambut Ramadan remaja masjid, ia kesal sebagian besar warga kampung tak mendukungnya dalam pemilihan ketua panitia. Padahal hari ini ia ulang tahun yang ke-17, dan itu akan jadi kado terindah untuknya. Tapi mereka malah lebih memilih Asyifa sebagai ketua panitia. Hati Karta pun sedih.

Sembari berjalan, Karta pun membayangkan andai ia menemukan lampu wasiat seperti di cerita 1001 Malam. Ia akan meminta apa yang saat ini diinginkannya. Lebih dari tiga permintaan.

Tiba-tiba, kaki Karta tersandung batu. Lamunannya pun buyar. Ia tiba-tiba merasa haus. Tapi dilihatnya warung angkringan langganannya tak buka
Diedarkan pandangannya ke sekeliling jalan kampung. Ketika melongok ke bawah, Karta melihat sebuah kendi kuno.

’’Wah, kebetulan baru haus,’’ pikir Karta. Segera diambilnya kendi itu. Hendak menuangkan isinya ke dalam mulut. Tapi tak ada yang keluar.

Karta kesal. Dibantingnya kendi ke tanah. Ia kaget melihat kendi kuno itu tak pecah. Tak percaya, ia mengambil kendi kuno lalu mengusap perlahan bagian luarnya untuk tahu apa ada yang tergores atau berlubang. Mendadak muncul asap mengepul keluar dari dalam mulut kendi kuno. Dilemparkannya kendi kuno. Karta mundur beberapa langkah ke belakang.

’’Hahahahaha,’’ tampak sesosok makhluk tinggi besar berkepala plontos tertawa seiring sirnanya asap yang mengepul.

’’Siapa yang sudah membangunkan aku?’’ makhluk tinggi besar berkepala plontos itu memandang ke sekelilingnya. Karta yang ketakutan, terjengkang ke belakang. Jatuh terduduk. Kakinya tampak gemetaran.
’’Aaaakuuuu…. .’’ kata Karta ketakutan. Makhluk tinggi besar berkepala plontos itu menatap tajam Karta.

’’Siapa kamu?’’ Karta memberanikan diri bertanya sambil berusaha berdiri.

’’Aku Jano, penghuni kendi kunonya,’’ jawab makhluk tinggi besar berkepala plontos itu. Karta terbengong sejenak.

’’Kenapa kamu bisa ada di situ?’’ tanya Karta dengan bibir bergetar.

’’Dulu aku seorang penasehat keuangan di sebuah kerajaan lampau. Tapi karena aku korupsi uang pajak kerajaan, aku dihukum dimasukkan dalam kendi kuno oleh pengadilan kerajaan hingga ada yang bebaskan aku. Tujuh ratus lima puluh tahun aku berada di kendi kuno,’’ jawab Jano.

’’Kendi? Kenapa bukan lampu wasit?’’ Karta heran.

’’Kekayaanku semua disita kerajaan. Aku bangkrut akibat ulahku semdiri. Yang tersisa hanya sebuah kendi tempatku kini dihukum.’’ Karta manggut-manggut mendengar penuturan Jano.

’’Dan karena kamu sudah membangunkanku, aku berjanji akan mengabulkan tiga permintaanmu,’’ lanjut Jano. Karta tertawa kecil. Ketakutannya perlahan lenyap.

’’Bukankah kamu tadi bilang kekayaanmu sudah disita, bagaimana bisa mengabulkan permintaanku nanti?’’

’’Harta kekayaanku banyak yang gak kulaporkan kepada kerajaan. Sebagian aku simpan dalam bentuk deposit, sebagian lagi berupa properti yang hinģga sekarang bisa dinikmati keturunan-keturunanku. Jadi tenang saja apa permintaanmu, aku akan kabulkan.’’

’’Oke. Kalau begitu, aku minta empat permintaan?’’ tanya Karta memberanikan diri. Jano terhenyak.

’’Aku gak bisa. Aku hanya mau mengabulkan tiga permintaan.’’ Jano menyahut.

’’Tolonglah, yang satu bonus buatku karena hari ini aku ulang tahun,’’ ujar Karta bohong.
’’Baiklah, tapi jangan tanya lagi darimana aku bisa kabulkan permintaanmu.’’ Karta mengangguk setuju.

’’Baik, apa empat permintaanmu?’’ tanya Jano.

’’Yang pertama, aku minta semua warga memilihku jadi Ketua panitia menyambut Ramadan.’’

’’Yang kedua, aku minta menang dengan suara terbanyak.’’

’’Yang ketiga, aku minta kalau aku kalah, pemilihan ketua panitia menyambut Ramadan harus diulang.’’

’’Lalu yang keempat, aku minta empat permintaan lagi.’’ Karta selesai dengan permintaannya. Jano hanya melongo.

’’Semua permintaanmu itu tidak relevan dan cenderung melawan takdir, aku tak bisa mengabulkannya,’’ kata Jano.

’’Kamu kan sudah berjanji akan mengabulkan empat permintaanku tapi mana… mana… mana? Dasar tukang bohong,’’ sahut Karta marah. Jarno tak tinggal diam.

’’Kalian bangsa manusia juga hanya bisa berjanji tapi jarang ditepati, aku juga bisa begitu. Lagipula aku berjanji hanya mengabulkan tiga bukan empat permintaan,’’ ujar Jano yang lantas kembali masuk ke dalam kendi kuno. Karta kaget dan hendak meminta maaf tapi semua sudah terlambat. Kendi kuno tiba-tiba sudah menghilang dari hadapan Karta, pergi entah kemana.

Karta melanjutkan langkahnya. Pelan nan gontai, tak bertenaga. Hari ini ulang tahunnya yang ketiga belas tapi tak ada yang mengucapkan selamat untuknya.

Tiba-tiba, kendi kuno muncul di hadapannya. Lalu keluarlah Jarno dari dalam.

’’Kamu kok kembali? Mau ngabulin empat permintaanku ya?’’ tanya Karta heran melihat Jano kembali.

’’Jangan GR dulu, aku tadi lupa ngucapin selamat ulang tahun buat kamu. Selamat ulang tahun, Karta. Semoga sehat dan sukses selalu, Aamiin.’’

’’Terima kasih, Jano. Hadiahnya mana?’’

’’Maaf saat ini aku gak bisa beri kamu hadiah, depositku sudah diblokir. Aku baru kabarnya tadi.’’

’’Jadi… kamu gak bisa kabulkan empat permintaanku tadi.’’ Jano menggeleng. Karta pun lemas mendengarnya. Jatuh terkulai di tanah.

Sebelum Karta pingsan, Jano membisikkan sesuatu di telinganya, ’’Aku kira kita bisa bisa seperti Jin dan Jun, dua sahabat yang tak terpisahkan.’’ Karta yang mendengarnya menunda pingsannya.

’’Ogah ah, kalau Om Jin yang itu kaya. Lha kamu gimana? Kere!!’’

’’Dasar manusia matre…!!!’’ Keduanya lalu tertawa.

’’Memangnya kamu tahu Jin dan Jun?’’ tanya Jano selesai tertawa.

’’Ya tahulah, itu sinetron favorit orang tuaku zaman 90’an.’’

’’Iya, aku juga sinetron itu. Bagus,’’ Karta heran mendengarnya.

’’Sebentar… sebentar, katanya kamu sudah dikurung dalam kendi kuno selama tujuh ratus lima puluh tahun, kok bisa tahu Jin dan Jun.’’

’’Gini-gini aku selalu update informasi. Di dalam kendi kuno, aku ada fasilitas mewah. Jadi bisa tahu keadaan di luar.’’

’’Wuih keren juga isi kendi kunomu itu ya. Eh ngomong-ngomong Jin dan Jun bakalan tayang lho nanti lebaran di bioskop.’’

’’Wah pasti seru itu.’’
’’Iya juga sih tapi….’’
’’Tapi apa?’’
’’Tapi jinnya lebih mirip anggota grup band metal,’’ Jano tak kaget.

’’Iya, aku ingatnya malah grup band Kuburan.’’ Keduanya bergosip tentang kenangan apa saja yang dilaluinya di masa lalu. Hingga malam pun tiba.

Yogyakarta, 22 Maret 2023

*Karya cerpen saya pernah dimuat di Apajake.com, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Harian Rakyat Sultra, Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Kompas.id, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Story, Minggu Pagi, Majalah Kuntum, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Jombang, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya Republika, Serambi Ummah, Solopos, Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia).

*Buku Kumpulan Cerpen berjudul “Pulsa Nyawa” karya saya, terbit bulan Agustus 2019 oleh AT Press Lombok.

Email: herumawanpa@gmail.com
IG: @herumawanpa
Alamat rumah lama: Pringgokusuman GT II/ 537 A RT 24/RW06 Yogyakarta 55272 Indonesia.
Alamat rumah baru: Jalan Wonosari KM 9 Dusun Sribit Kidul RT 01/RW 11 (Belakang kantor Jogja TV, rumah di tengah sawah) Kelurahan Sendang Tirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman, Yogyakarta 55573.
WA: 0895418601800.
Facebook: libra_milanisti@yahoo.com.au (Heru Prasetyo)
Twitter: @herumawanpa

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *