Jam di Era Majapahit, Tak Bisa Digunakan saat Cuaca Buruk

Published by on

PEMAKAIAN jam matahari sebagai alat penunjuk waktu di zaman kuno memiliki banyak keterbatasan. Khususnya soal penerapan saat malam hari dan cuaca buruk. Lantaran mengandalkan prinsip kerja bayangan matahari, terhalang atau tidak adanya cahaya mentari membuat teknologi sederhana itu tak berfungsi.

Pada prinsipnya, jam matahari, bencet, istiwa, atau sundial, bisa digunanan sebagai acuan waktu ketika gnomon memiliki bayangan dari matahari. Namun jika gnomon tak berbayangan, praktis jam matahari tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. ’’Kalau proses terbentuknya bayangan itu tidak ada atau sempurna, sudah tentu (jam matahari) itu tidak bisa dipakai,’’ ungkap pemerhati tinggalan budaya Majapahit, Anam Anis.

Hal tersebut seiring dengan jumlah angka dan bidang pada piringan dial yang berjumlah 12. Artinya, jam tersebut maksimal bisa digunakan 12 jam sejak matahari terbit hingga terbenam. Yang selebihnya, jam matahari atau istawa tak bisa digunakan menunjukkan waktu dari proses alamiah tersebut. ’’Karena memang acuan dan tandanya itu dari cahaya matahari,’’ sebutnya.

Mengingat keterbatasannya, jam matahari mengalami penyempurnaan. Yakni dibuatnya jam dinding mekanik pertama oleh tukang kunci dari Italia, Giovanni Dondi, pada 1364 silam. Seiring berjalannya waktu, inovasi akan jam, alat penunjuk waktu, terus berkembang. Terbukti dengan dibuatnya jam tangan analog pertama oleh Robert Dudley beberapa abad setelahnya, tepatnya 1571. Yang terus berkembang hingga pembuatan jam digital bahkan smart watch yang jamak digunakan di era modern saat ini. (vad/fen)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *