Jam di Era Majapahit, Andalkan Bayangan Matahari sebagai Penanda Waktu

Published by on

MAJAPAHIT merupakan kerajaan terakhir dari zaman periode klasik (Hindu-Buddha). Sejumlah teknologi telah diterapkan kala itu meski terbilang masih sederhana. Salah satunya penggunaan jam sebagai penanda waktu. Tak seperti saat ini, masyarakat Majapahit masih mengandalkan matahari untuk menentukan waktu.

Wilwatikta yang berdiri di abad ke-13 hingga 16 Masehi masih belum mengenal jam dinding yang kali pertama ditemukan di Eropa pada abad ke-14 Masehi. Sehingga, untuk penanda waktu kala itu masyarakat mengandalkan alat sejenis jam matahari, jam bencet, istiwa, atau sundial. Jam sederhana tersebut mengandalkan prinsip kerja bayangan matahari dari adanya rotasi bumi. Ukuran jam matahari relatif kecil, sekitar 50-100 cm.

’’Mungkin sekali masyarakat Majapahit saat itu pakai jam matahari. Karena di era Kerajaan Demak (abad 16 masehi) yang waktunya berdekatan dengan masa (setelah) Majapahit, itu pakai jam matahari. Bahkan sampai sekarang beberapa masjid tinggalan Demak masih ada yang pakai jam matahari (penanda waktu salat),’’ ujar pemerhati tinggalan budaya Majapahit, Anam Anis.

Berbagai sumber menyebut jam matahari kali pertama ditemukan ratusan hingga ribuan tahun sebelum masehi. Di mana komponen dan penerapannya semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Umumnya, jam matahari terdiri dari komponen gnomon (bilah pembentuk bayangan) dan bidang atau piringan dial. Lantaran mengandalkan bayangan matahari, bidang dial bertuliskan angka waktu 12 jam.

’’Jadi cara kerja jam matahari ini jatuhnya bayangan matahari (dari gnomon ke bidang dial) yang dijadikan pertanda waktu saat itu,’’ terang Anam. Meski begitu, hingga saat ini belum diketahui pasti adanya artefak jam matahari peninggalan era Majapahit. Namun, beberapa sumber menyebut jika Wilwatikta saat itu sudah memiliki acuan dan alat penanda waktu sendiri.

’’Di (kitab) Negarakretagama sekilas disebutkan tentang pukul 7. Tapi gambaran pukul 7 di situ situasinya berbeda dengan situasi pukul 7 sekarang ini. Pukul 7 di Negarakretagama masih remang-remang, padahal kalau sekarang pukul 7 sudah gelap atau terang kalau pagi. Berarti kan sudah ada penunjuk waktu saat itu. Tapi durasi waktunya berbeda dengan sekarang,’’ terang Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) BPK Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D. terpisah. (vad/fen)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *