Digugat Praperadilan, Polres Mojokerto Hormati Langkah Tersangka

Published by on

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Polres Mojokerto akhirnya angkat bicara terkait gugatan praperadilan yang diajukan Nurhasan, 48, warga Dusun/Desa Kebonagung, Kecamatan Puri. Polisi menyatakan akan menghormati langkah hukum yang ditempuh tersangka penganiayaan tersebut.

Nurhasan tidak terima ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan terhadap Kepala Dusun Kebonagung Budi Wibowo. Dia merasa telah dikriminalisasi. Proses penyidikan yang dilakukan kepolisian dinilainya penuh kecacatan. Dalam praperadilan yang diajukan 19 Mei lalu, Nurhasan menggugat Kapolres Mojokerto AKBP Wahyudi, Kasatreskrim AKP Gondam Prienggondhani, dan kanit pidana ekonomi selaku penyidik.

Kapolres Mojokerto AKBP Wahyudi angkat bicara terkait gugatan tersebut. Pihaknya menyatakan akan menghormati upaya hukum yang ditempuh tersangka. ”Kami menghormati langkah yang diambil,” ujarnya dihubungi kemarin (24/5). Dengan demikian, kepolisian dan tersangka siap untuk saling berhadapan di pengadilan. Polisi siap membuktikan penetapan tersangka telah sesuai prosedur. Di sisi lain, pihak tersangka juga akan menunjukkan adanya kecacatan.

Nurhasan meyakini dirinya adalah korban pengeroyokan. Dia mengaku memukul Budi untuk membela diri karena lebih dulu dikeroyok. Polisi dinilai tak mempunyai cukup alat bukti saat menetapkannya sebagai tersangka pada 12 April lalu. ”Keterangan saksi yang tidak lain adalah orang yang memukuli saya patut dipertanyakan,” ujar Nurhasan. Kebenaran keterangan saksi disebutnya perlu dikaji ulang karena mereka juga ditetapkan sebagai tersangka pengeroyokan/penganiayaan pada 13 April.

Di sisi lain, pihak Budi menyatakan penetapan tersangka terhadap Nurhasan sudah tepat. Sebab, Nurhasan adalah orang yang kali pertama melakukan pemukulan saat terjadi keributan di rumah Budi pada 25 Desember 2022 silam. ”Nurhasan itu yang memukul duluan, dia yang datang ke rumah pak polo lalu memukul. Otomatis pak polo membela diri,” tutur Lambang Siswandi, kuasa hukum Budi dihubungi kemarin.

Menurutnya, Budi terpaksa melaporkan ke polisi sebagai korban penganiayaan karena adanya laporan dari Nurhasan sebagai korban pengeroyokan. Lambang menyebut, upaya mediasi yang sempat ditempuh gagal karena Nurhasan meminta ganti rugi sejumlah uang. Tindakan saling lapor itu akhirnya membuat kedua pihak kini sama-sama jadi tersangka dengan status tahanan luar.

Sebagaimana diberitakan, Nurhasan melalui kuasa hukumnya Aditya Anugrah Purwanto mengajukan permohonan praperadilan ke PN Mojokerto, Jumat (19/5). Sidang perdana perkara dengan nomor 3/Pid.Pra/2023/PN Mjk itu dijadwalkan dijadwalkan berlangsung 5 Juni nanti. Perkara penganiayaan yang menjadikannya tersangka bermula dari aksi saling pukul pada tengah malam, 25 Desember 2022 silam. Kala itu dia datang ke rumah Budi untuk berdiskusi terkait protes aktivitas pabrik jeli PT Makmur Artha Cemerlang yang dilakukannya. Dia menilai asap pabrik memicu polusi dan limbah cairnya mencemari lingkungan.

Setelah terlibat cekcok, Nurhasan dan Budi saling pukul. Nurhasan mengaku dirinya lebih dulu ditonjok di bagian muka oleh Budi dan anaknya, Ikhwan, serta tiga orang lain yang berada di lokasi. Sedangkan, pihak Budi menyebut jika Nurhasan lebih dulu melakukan pemukulan. Pada 12 April, Satreskrim Polres Mojokerto menetapkan Nurhasan sebagai tersangka penganiayaan dengan Pasal 351 ayat 1. Sementara itu, sehari kemudian, giliran Budi dan 2 orang lainnya yang ditetapkan sebagai tersangka pengeroyokan dengan Pasal 170 ayat 2 ke 1 dan atau Pasal 351 ayat 1 KUHP. (adi/ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *