Bupati Mojokerto Ikfina Minta BPBD Siaga Kekeringan

Published by on

Ajak Seluruh Elemen Galakkan Reboisasi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati meminta BPBD meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana hidrometeorologi hingga potensi kekeringan di sejumlah desa. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat menggalakkan gerakan reboisasi.

’’Kesiapsiagaan kita harus tetap kita tingkatkan, tidak hanya masalah hidrometeorologi yang mungkin nanti akan kita hadapi di akhir tahun 2023 dan awal tahun 2024, tetapi kita juga harus bersiap-siap dengan potensi kekeringan yang mungkin terjadi akibat pada saat hujan di akhir tahun 2022 dan awal 2023 yang diakibatkan resapan air tidak terjadi dengan baik,’’ ungkap Ikfina.

Menurutnya, dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, terkait dengan kebencanaan, tentu harus dimulai dari berbagai upaya mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan. Sebab, tegas bupati, bencana akan selalu muncul dengan masalah-masalah yang baru. ’’Persoalan bencana alam yang muncul di Kabupaten Mojokerto juga tidak lepas dari iklim yang berdampak pada bencana hidrometeorologi maupun kekeringan,’’ terangnya.

Faktor lain, kata Ikfina, beberapa wilayah resapan air di Kabupaten Mojokerto juga mengalami gundul. Sehingga, pihaknya mengajak semua elemen masyarakat harus menjaga kelestarian fungsi hutan. Termasuk melakukan gerakan reboisasi. ’’Dengan reboisasi diharapkan resapan air pada saat musim penghujan bisa baik. Sehingga peristiwa bencana alam juga bisa diminimalisir,’’ tuturnya.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat mengatakan, bencana hidrometeorologi masih menjadi ancaman di Bumi Majapahit. Sebab, sesuai prakiraan kondisi iklim di wilayah Jatim, Mojokerto masuk daerah yang masih berpotensi turun hujan hingga akhir Mei. ’’Cuaca hujan termasuk dalam kategori rendah hingga sedang. Jadi, potensi bencana tetap kita waspadai, khususnya di bagian selatan,’’ ungkapnya.

Karena sebagian kecil wilayah, kata Djoko, BPBD kini juga mulai melakukan mitigasi bencana kekeringan di tengah menghadapi musim kemarau. Sesuai pemetaan, bencana menahun yang terjadi itu diperkirakan masih terjadi di tiga desa. ’’Potensi kekurangan air bersih, masih sama, ada di tiga desa yang tersebar di dua kecamatan,’’ tuturnya.

Seperti di Desa Kunjorowesi dan Desa Manduromanggunggajah, Kecamatan Ngoro, serta Desa Duyung, Kecamatan Trawas. ’’Belum, sampai sekarang belum ada surat pengajuan untuk droping air bersih, tapi kita sudah siap anggarannya. Dalam waktu dekat kita akan mitigasi ke lokasi,’’ bebernya. (ori/ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *