7 Kecamatan di Mojokerto Rawan Bencana, Status Tanggap Darurat Selangkah Lagi

Published by on

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pemkab Mojokerto mulai melakukan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setidaknya terdapat ada tujuh wilayah yang perlu diwaspadai.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat, mengatakan, mitigasi pada peralihan musim sudah dilakukan BPBD. Sebab, daerah dengan 18 kecamatan ini belum bebas dari potensi bencana kekeringan dan karhutla. ’’Potensi kekeringan atau kekurangan air bersih masih terjadi. Termasuk, karhutla juga masih tinggi,’’ ungkapnya.

Hasil asesmen ditemukan sebanyak tujuh wilayah dipetakan memiliki potensi tinggi bencana kekeringan hingga karhutla. Khusus kekurangan air bersih kata Djoko, tersebar pada tiga desa di dua kecamatan dengan total warga terdampak sekitar 4.600-an jiwa. Terparah tetap berada di Desa Manduromanggunggajah, Kecamatan Ngoro dengan dampak paling banyak sekitar 2.142 warga.

Disusul Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro mencapai 1.635 warga, serta Dusun/Desa Duyung, Kecamatan Trawas dengan warga yang terdampak 831 jiwa dari 277 KK. ’’Ketiga desa permohonan (air bersih) sudah masuk BPBD, namun sementara ini diatasi sendiri oleh desa sambil menunggu bantuan dropping air bersih dari BPBD,’’ tegasnya.

Kendati kekeringan terjadi sejak bulan lalu, hingga kini BPBD belum bisa melakukan dropping air bersih untuk mencukupi kebutuhan warga. Penyebabnya, belum terbitnya status tanggap darurat yang dikeluarkan Pemkab Mojokerto. Disebutnya, keputusan bupati atas status tanggap darurat kekeringan dan karhutla masih diajukan.

’’Status tanggap darurat masih dalam proses teken ibu bupati dan BPBD juga sedang proses MoU dengan PDAM untuk dropping air bersih. Kalau administrasinya sudah beres semua, paling cepat minggu depan sudah bisa dropping. Ini maju satu bulan dari tahun lalu kita mulai bulan Juli,’’ paparnya.

Sementara, untuk kawasan yang perlu diwaspadai terjadinya karhutla ada di Kecamatan Ngoro, Trawas, Pacet, Gondang, Jatirejo, Dawarblandong, dan Kemlagi. Ketujuh wilayah tersebut, rawan kebakaran lantaran masih banyak hutan. ’’Kalau Kecamatan Jetis sudah tidak masuk pemetaan rawan karhutla, alasannya karena hutannya sudah gundul dibuat tempat rekreasi atau wisata,’’ jelasnya.

Sebagai kesiapsiagaan, BPBD menggandeng semua pihak dalam penanggulangan bencana kekeringan dan karhutla. Mulai, masyarakat umum, relawan, Perhutani dan pengelola Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. (ori/ron)

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *